Etos Kerja Selama Bulan Ramadhan
Diposting oleh Admin pada Kam, 13/04/2023 10:16 WIB


 Bertepatan pada hari ini, masjid Bakrie Pipe Industries telah mengadakan tausiah yang bertemakan “Etos Kerja Selama Bulan Ramadhan”. Berhubungan dengan itu, sama halnya dengan artikel hari-hari sebelumnya, penulis akan membahas tema di atas secara lebih dalam melalui cara pandang filosofisnya. Yuk disimak pembahasannya!

Etos Kerja Selama Bulan Ramadhan

Salah satu bahasan terkenal dalam diskursus filsafat yaitu, dualisme mind dan body. Singkatnya, terdapat suatu pernyataan yang menyatakan bahwa diantara mind dan body, keduanya merupakan aset yang terpisahkan, dalam kurung persoalan peran dan wujud serta tata letaknya. Keduanya tak memiliki kesinambungan sama sekali. Kalau dipikirkan secara kilat, tampak aneh kalau keduanya memiliki keterhubungan. Di saat yang bersamaan, muncul pernyataan yang berkontradiksi yaitu pernyataan bahwa keduanya jelas memiliki keterhubungan, yang memang tak dapat dilihat secara ekstrinsik dan telanjang mata. Mereka, dengan fungsinya masing-masing, dapat bersatu, berkolaborasi, bantu-membantu guna memberi pemaknaan terhadap bagaimana manusia bereksistensi. Untuk saat ini, penulis sangat setuju akan pernyataan kedua. Bila dikaitkan dengan tema hari ini, penulis dapat membuktikan keterhubungan antara keduanya. Mari kita beranjak pada pembahasannya!

Etos kerja selama bulan Ramadhan jelas berkaitan dengan tema kita minggu lalu, yaitu “Tetap Segar Meski Berpuasa”. Konklusi akhir yang penulis paparkan terkait tema itu, berujung pada pemfokusan diri atas pemanfaat peran mind untuk mensugesti diri untuk menjaga nuansa segar saat berpuasa. Sedangkan untuk kali ini, penulis akan membawa pembaca untuk lebih fokus pada pembahasan atas pemanfaatan peran body.

Sementara mengebelakangkan mind, body merupakan wujud konkret yang membantu manusia untuk menggerakan niat dalam upaya menjaga produktivitas sehari-hari. Tidak lain itu berarti etos kerja dapat ditingkatkan dengan mengakali penggunaan body dalam keseharian di bulan Ramadhan. Terdapat dua hal yang dapat dilakukan untuk menjaga etos kerja, diantaranya mengatur waktu dengan pintar dan menjaga kesehatan tubuh dengan baik.

Berbicara mengenai waktu, badan memiliki porsi waktunya sendiri, termasuk porsi waktu untuk beristirahat serta beraktivitas. Pemenuhan atas masing-masing porsi, tentu akan mempengaruhi kualitas tubuh. Kualitas tubuh menjadi awalan yang sempurna untuk menjaga skala produktivitas tinggi. Tak heran lagi bila kemudian kita harus punya cara sendiri untuk pintar-pintar mengatur porsi waktu tubuh kita. Sesuai anjuran ahli, wajarnya tubuh beraktivitas di rentang waktu 12-18 jam. Sedangkan untuk beristirahat, wajarnya di rentang waktu 6-8 jam. Kurang atau lebihnya memaksakan tubuh dari rentang yang dianjurkan, itu akan berpengaruh pada masalah kesehatan yang berakhir pada terganggunya produktivitas tubuh kita. Langkah selanjutnya, sesuaikanlah porsi waktu yang dianjurkan dengan waktu untuk beribadah di bulan puasa. Di titik ini lah kita harus mencari celah yang tepat untuk melakukan penyesuaian.

Hal kedua yang sepatutnya diperhatikan yaitu keseimbangan pengkonsumsian makanan dan minuman saat sahur dan berbuka. Apa yang masuk itu akan mempengaruhi apa yang keluar. Dengan kata lain, apa yang dikonsumsi akan berpengaruh pada besaran energi. Lagi-lagi kita harus memaksakan diri, untuk pintar-pintar menjaga tubuh dengan memahami keseimbangan gizi yang harus memenuhi tubuh. Sesuai yang dianjurkan oleh ahlinya, manusia harus mengkonsumsi air putih minimal 8 gelas per hari, diikuti dengan pemenuhan serat, vitamin, karbohidrat, dan protein. Kembali lagi tak bosan-bosan bagi penulis untuk mengingatkan bahwasanya semua yang kurang dan lebih itu tak baik untuk kita. Seperti seharusnya, semua patut dipenuhi secara “secukupnya”. Kemudian, tinggalah kita melakukan penyesuaian porsi pengkonsumsian dengan waktu sahur dan berbuka.

 

Penulis : Btari Cinta


Artikel ini sudah dibaca oleh : 324 pengunjung



Whistle Blower System