Tolak Ukur Keberhasilan Ramadhan?
Diposting oleh Admin pada Rab, 05/04/2023 09:46 WIB


 Selama bulan Ramadhan, banyak dari umat muslim berupaya untuk mencapai keberhasilan dalam menjalani Bulan Ramadhan. Untuk tujuan, lantas apa yang menjadi tolak ukur keberhasilan Ramadhan?

Masih dalam rangka memaparkan pembahasan lanjutan sesuai tema tausiah yang yang diadakan di tiap Senin dan Rabu, untuk kesempatan kali ini penulis akan membahas mengenai “Tolak Ukur Keberhasilan Ramadhan”. Tak lupa pula untuk mengelaborasikannya dengan sudut pandang filosofis terkait tema di atas.

Tolak ukur keberhasilan Ramadhan

Memulai dengan mengajukan pertanyaan terkait “apa itu tolak ukur keberhasilan?”. Dalam konteks ini, tolak ukur keberhasilan merujuk pada batasan atas acuan atau bahkan patokan ukuran yang jikalau dicapai maka dapat dikatakan berhasil. Bila kemudian dibuat definisi yang lebih kompleks, tolak ukur keberhasilan Ramadhan merupakan suatu ukuran terkait batasan atau acuan atau patokan tertentu yang bila dicapai maka akan sampai pada titik keberhasilan atas bagaimana suatu pihak menjalankan ibadah Ramadhannya. Sudahkah cukup mengerti atas pendefinisiannya? Selanjutnya, lantas hal apa yang disepakati sebagai tolak ukurnya?

Ada sekiranya 6 hal utama yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan Ramadhan. Yang pertama tertuju pada usaha meningkatkan iman serta taqwa. Selanjutnya, yaitu membangun jiwa yang semangat untuk melaksanakan sholat berjamaah. Ketiga perihal usaha menjadikan diri sebagai pribadi yang bermanfaat bagi pihak lain. Hal keempat terkait usaha untuk menimba ilmu yang lebih giat dari sebelumnya. Kemudian selanjutnya tertuju pada penumbuhan rasa semangat berjuang dalam diri. Yang terakhir ialah membentuk benteng kokoh atas persatuan dan kesatuan.

Cara memandang

Dari apa yang dikotak-kotakan menjadi sebuah “tolak ukur”, penulis menemui satu irisan yang menyertai keenam kriteria tersebut. Kebaikan ialah irisan yang penulis maksudkan. Kebaikan menjadi rupa fundamental yang melandasi pentransformasian keenam hal tadi sesuai dengan pengkategorian wujud aktivitasnya. Dalam pembentukannya, kebaikan terbagi dalam dua garis fungsi, diantaranya kebaikan untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Sesuai cara kerjanya dalam sosial, kebaikan tak berhenti merubah bentuk hanya menjadi keenam hal tadi saja. Ada banyak bentuk lain atas kebaikan yang bisa dijumpai dan dihadirkan. Kendati demikian, keenam hal utama tadi menjadi rupa kebaikan yang sepatutnya lebih diutamakan. Melalui paparan tulisan ini, penulis sangat meyakini bahwa kemudian konklusi sementara atas tulisan ini tidak lain ialah bagaimana tolak ukuran atas Ramadhan yaitu bahwasanya pihak yang menjalani Ramadhan dapat mengantarkan dirinya pada titik untuk mencapai klimaks keberhasilan atas Ramadhan dengan menggunakan kesempatan yang ada untuk memaksimalkan jiwa dan raga dalam berbuat kebaikan dan mengharapkan pahala atas Allah SWT. Sebagai penambahannya, penulis juga bermaksud untuk menyadarkan umat muslim untuk, tidak hanya mengutamakan keenam hal tadi, tetapi juga turut optimis berbuat kebaikan dalam rupa lainnya sebagai pelengkapnya.

 

(sumber:http://smpbptahfidzattaubah.sch.id/tolak-ukur-keberhasilan-ramadhan)